Wednesday, 30 December 2015
KEMUDAHAN SHOLAT
Sunday, 27 December 2015
SHOLAT DALAM AL-QUR'AN
Saturday, 26 December 2015
Kumpulan Software Islam
Adhan pro 4 Download disini
Quran in word v22 32bit Download disini
Quran in word v22 64bit Download disini
Quran in word 13.2 Download disini
Tuesday, 15 December 2015
Shalat Nasrani dan Yahudi
Menurut Dr. Jawwad ‘Ali, kata shalat berasal dari bahasa Aramaic (bahasa ibu Yesus Kristus dan bahasa ash sebagian besar Kitab Daniel dan Ezra serta bahasa utama Talmud) dari suku kata shad-lam-alif ; ﺻﻼ yang memiliki arti rukuk, atau merunduk (inhina). Istilah “shalat” digunakan untuk merepresentasikan praktik ritual keagamaan, dan kata “shalat” ini kemudian digunakan oleh kalangan Yahudi sehingga sejak saat itu kata “shalat” menjadi bahasa Aramaic-Ibrani. Umat Yahudi menggunakan kata “shalutah” pada masa akhir periode Taurat. Hal ini dikuatkan oleh pendapat seorang sahabat terkemuka, Ibnu Abbas, yang menyatakan bahwa kata “shala” berasal dari bahasa Ibrani “shaluta” yang bermakna “tempat ibadah Yahudi”. Istilah “shaluta” sendiri pada perkembangannya masuk ke dalam bahasa Arab melalui tradisi Judeo-Kristiani dan kontak interaktif dengan komunitas Yahudi Ahli Kitab. Begitulah pemaparan awal Dr. Jawwad ‘Ali tentang shalat yang ditelaahnya secara filologis.
Monday, 14 December 2015
JUMLAH ASMA ULHUSNA
Benarkah jumlah asma-ul-Husna adalah 99 ?
Al-Qur’an tidak berbicara apa-apa menyangkut jumlah nama-nama Tuhan yang dikenal dengan istilah asmaul-husna, adapun keterangan yang menyebutkan jumlahnya sebanyak sembilan puluh sembilan hanya bisa didapati dari sejumlah Hadis Nabi, seperti :
Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama,
barangsiapa hafal mencakup keseluruhannya, dia masuk syurga. - Hadis riwayat Bukhari
Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, barangsiapa memeliharanya, dia masuk syurga. – Hadis riwayat Turmudzi dari Abu hurairah
Selain kedua riwayat diatas, Ibnu Majah yang juga salah seorang periwayat hadis terkenal telah meriwayatkan jumlah asmaul-husna sampai 114 nama (jadi ada 15 nama lebih banyak dari riwayat Turmudzi dan Bukhari yang hanya berjumlah 99). Begitu juga dengan Imam Thabrani yang meriwayatkan sampai 130 nama, sementara al-Qurtubhy menyebutkan hanya sampai 117 nama saja[1].
BENARKAH NAMA TUHAN ADALAH ALLAH ?
Assalamu'alaykum Wr. Wb.
Benarkah nama Tuhan adalah Allah ?
Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas dihati umat Islam, apalagi melihat dari kenyataan yang ada dihadapan kita betapa beragamnya nama-nama yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa oleh manusia disetiap jaman dan agama. Jika memang nama Tuhan adalah ALLAH, maka kenapa hampir semua umat manusia didunia ini berbeda dalam penyebutannya terhadap Tuhan ?
Kenapa ada yang menyebut-Nya dengan nama Yahweh, Jagad Dewa Batara, SANG Hyang Widhi dan sejumlah nama-nama lainnya ? Padahal al-Qur’an memberi informasi bahwa Tuhan telah mengirim para Rasul-Nya disetiap daerah, baik yang nama-namanya tercantum dalam al-Qur’an ataupun tidak.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu
- Qs. 40 al-mu’min : 78
Saturday, 12 December 2015
Mohammad Asad
Seorang Negarawan, Wartawan dan Pengarang
Pada tahun 1922 saya rneninggalkan tanah air saya Austria untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian yang besar di Eropa. Sejak itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.
Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya kunjungi itu mula-mula adalah sebagai orang luar saja. Saya melihat susunan masyarakat dan pandangan hidup yang pada dasarnya berbeda dengan susunan masyarakat dan pandangan hidup orang-orang Eropa, dan sejak pandangan pertama, dalam hati saya telah tumbuh rasa simpati terhadap pandangan hidup yang tenang, yang boleh saya katakan lebih bersifat kemanusiaan jika dibanding dengan cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik. Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sebab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang Islam. Dengan persoalan ini, saya belum merasa tertarik cukup kuat untuk memeluk agama Islam, akan tetapi telah cukup membuka mata saya terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sunguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang Islam sekarang masih jauh berbeda dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran-ajaran Islam.
Wednesday, 9 December 2015
SEJARAH SHALAT
Penyusun : Tri Harjanto & Alif Jum’an
Pernahkah, Anda (khususnya yang terlahir muslim), bertanya-tanya, atau mungkin ditanya orang; “Sebetulnya bagaimana, awal mula shalat diperintahkan oleh Allah ? Kapan, dan kenapa pula, shalat diwajibkan ? ”. Mungkin sebagian besar kita akan menjawab “Wah, nggak tahu saya” dan mungkin sebagian lagi akan menjawab dengan nada konservatif, “Shalat awal mula diperintahkan oleh Allah pada saat Nabi melakukan Isra’ Mi’raj, dan setelah itu dijadikan sebagai kewajiban bagi umat Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, dan tidak perlu dipertanyakan apa dan mengapanya. Tugas kita hanyalah ‘sami’na wa atha’na’, alias dengar dan patuh saja. Titik !”. Sebagaimana keterangan surah Al-Muzammil ayat 120, sesungguhnya shalat pertama yang diwajibkan bagi Rasulullah SAW dan umat Islam adalah shalat malam. Namun, ketika ayat ke-20 diturunkan, shalat malam menjadi sunah. Sebagaimana banyak dijelaskan oleh para ulama, termasuk dalam berbagai kitab klasik, pada malam hari saat melaksanakan Isra, atau sesampainya di Baitul Maqdis atau Al-Aqsha, Rasul SAW melaksanakan shalat dua rakaat. Ketika itu. Rasul SAW bertindak sebagai imam, sedangkan makmumnya adalah para malaikat-malaikat Allah, termasuk Jibril. Dengan berlandaskan surah Muzammil ayat 1-19, shalat yang
dikerjakan itu adalah shalat malam yang diwajibkan atas Rasulullah SAW. Lalu, ketika turun ayat ke-20 surah Al-Muzammil, shalat yang diwajibkan adalah shalat lima waktu yang diterima oleh Rasulullah SAW ketika melaksanakan Isra Mi’raj pada 27 Rajab tahun ke-2 sebelum hijrah atau tahun 11 kenabian Nabi Muhammad SAW atau tepatnya tahun 622 M. Ketika itu Rasulullah SAW berusia sekitar 51 tahun. Sebab, beliau lahir tahun 571 M, kemudian diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, dan berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan sekitar 10 tahun di Madinah. Namun, sewaktu di Makkah, dua tahun sebelum hijrah, Allah mewajibkan umat Islam untuk mendirikan shalat lima waktu. Dan, empat tahun kemudian, Allah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan (tahun 2 Hijriyah). Namun, tidak diketahui bagaimana saat itu cara Rasul SAW melaksanakan shalat. Hanya saja, dalam sejumlah riwayat, beliau melaksanakan shalat seperti yang dikerjakan umat Islam saat ini berdasarkan penjelasan dari Jibril. Jibril mengajarkan Rasul SAW untuk mendirikan shalat secara benar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah. Dan umat Islam, melaksanakan shalat sebagaimana diajarkan oleh Rasul SAW. “Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaq Alaih).



